Sabtu, 26 Februari 2011

Detik-Detik Rasulullah SAW Menjelang Sakratul Maut

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.

Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

* * *
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-2 muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencinta kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

Sabtu, 19 Februari 2011

Kisah Bunga Mawar


Suatu ketika, ada seseorang pemuda yang mempunyai sebuah bibit mawar. Ia ingin sekali menanam mawar itu di kebun belakang rumahnya. Pupuk dan sekop kecil telah disiapkan. Bergegas, disiapkannya pula pot kecil tempat mawar itu akan tumbuh berkembang. Dipilihnya pot yang terbaik, dan diletakkan pot itu di sudut yang cukup mendapat sinar matahari. Ia berharap, bibit ini dapat tumbuh dengan sempurna.

Disiraminya bibit mawar itu setiap hari. Dengan tekun, dirawatnya pohon itu. Tak lupa, jika ada rumput yang menganggu, segera disianginya agar terhindar dari kekurangan makanan. Beberapa waktu kemudian, mulailah tumbuh kuncup bunga itu. Kelopaknya tampak mulai merekah, walau warnanya belum terlihat sempurna. Pemuda ini pun senang, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Diselidikinya bunga itu dengan hati-hati. Ia tampak heran, sebab tumbuh pula duri-duri kecil yang menutupi tangkai-tangkainya. Ia menyesalkan mengapa duri-duri tajam itu muncul bersamaan dengan merekahnya bunga yang indah ini. Tentu, duri-duri itu akan menganggu keindahan mawar-mawar miliknya.

Sang pemuda tampak bergumam dalam hati,
“Mengapa dari bunga seindah ini, tumbuh banyak sekali duri yang tajam? Tentu hal ini akan menyulitkanku untuk merawatnya nanti. Setiap kali kurapihkan, selalu saja tanganku terluka. Selalu saja ada ada bagian dari kulitku yang tergores. Ah pekerjaan ini hanya membuatku sakit. Aku tak akan membiarkan tanganku berdarah karena duri-duri penganggu ini.”

Lama kelamaan, pemuda ini tampak enggan untuk memperhatikan mawar miliknya. Ia mulai tak peduli. Mawar itu tak pernah disirami lagi setiap pagi dan petang. Dibiarkannya rumput-rumput yang menganggu pertumbuhan mawar itu. Kelopaknya yang dahulu mulai merekah, kini tampak merona sayu. Daun-daun yang tumbuh di setiap tangkai pun mulai jatuh satu-persatu. Akhirnya, sebelum berkembang dengan sempurna, bunga itu pun meranggas dan layu.

Jiwa manusia, adalah juga seperti kisah tadi. Di dalam setiap jiwa, selalu ada ‘mawar’ yang tertanam. Tuhan yang menitipkannya kepada kita untuk dirawat. Tuhan lah yang meletakkan kemuliaan itu di setiap kalbu kita. Layaknya taman-taman berbunga, sesungguhnya di dalam jiwa kita, juga ada tunas mawar dan duri yang akan merekah.

Namun sayang, banyak dari kita yang hanya melihat “duri” yang tumbuh. Banyak dari kita yang hanya melihat sisi buruk dari kita yang akan berkembang. Kita sering menolak keberadaan kita sendiri. Kita kerap kecewa dengan diri kita dan tak mau menerimanya. Kita berpikir bahwa hanya hal-hal yang melukai yang akan tumbuh dari kita. Kita menolak untuk menyirami” hal-hal baik yang sebenarnya telah ada. Dan akhirnya, kita kembali kecewa, kita tak pernah memahami potensi yang kita miliki.

Banyak orang yang tak menyangka, mereka juga sebenarnya memiliki mawar yang indah di dalam jiwa. Banyak orang yang tak menyadari, adanya mawar itu. Kita, kerap disibukkan dengan duri-duri kelemahan diri dan onak-onak kepesimisan dalam hati ini. Orang lain lah yang kadang harus menunjukannya.

Jika kita bisa menemukan “mawar-mawar” indah yang tumbuh dalam jiwa itu, kita akan dapat mengabaikan duri-duri yang muncul. Kita, akan terpacu untuk membuatnya akan membuatnya merekah, dan terus merekah hingga berpuluh-puluh tunas baru akan muncul. Pada setiap tunas itu, akan berbuah tunas-tunas kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, yang akan memenuhi taman-taman jiwa kita. Kenikmatan yang terindah adalah saat kita berhasil untuk menunjukkan diri kita tentang mawar-mawar itu, dan mengabaikan duri-duri yang muncul.

Semerbak harumnya akan menghiasi hari-hari kita. Aroma keindahan yang ditawarkannya, adalah layaknya ketenangan air telaga yang menenangkan keruwetan hati. Mari, kita temukan “mawar-mawar” ketenangan, kebahagiaan, kedamaian itu dalam jiwa-jiwa kita. Mungkin, ya, mungkin, kita akan juga berjumpa dengan onak dan duri, tapi janganlah itu membuat kita berputus asa. Mungkin, tangan-tangan kita akan tergores dan terluka, tapi janganlah itu membuat kita bersedih nestapa.

Biarkan mawar-mawar indah itu merekah dalam hatimu. Biarkan kelopaknya memancarkan cahaya kemuliaan-Nya. Biarkan tangkai-tangkainya memegang teguh harapan dan impianmu. Biarkan putik-putik yang dikandungnya menjadi bibit dan benih kebahagiaan baru bagimu. Sebarkan tunas-tunas itu kepada setiap orang yang kita temui, dan biarkan mereka juga menemukan keindahan mawar-mawar lain dalam jiwa mereka. Sampaikan salam-salam itu, agar kita dapat menuai bibit-bibit mawar cinta itu kepada setiap orang, dan menumbuh-kembangkannya di dalam taman-taman hati kita.

Rabu, 16 Februari 2011

Persahabatan Bagai Kepompong :)

Sahabat itu sama kayak lagu nya Sindentosca~Kopompong

Dulu kita sahabat Teman begitu hangat Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

* Kini kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu

Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan

Namun itu karna ku sayang



reff:
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu

Persahabatan bagai kepompong

Hal yang tak mudah berubah jadi indah


Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan

Persahabatan bagai kepompong
na na na na na na na na na


Semua yang berlalu

Biarkanlah berlalu

Seperti hangatnya mentari

Siang berganti malam

Sembunyikan sinarnya

Hingga ia bersinar lagi

** Dulu kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu

Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karna ku sayang



Huaah.. Jadi sedih kalo denger lagu itu..
Baru terasa kalo dia tuh emang SAHABAT yang paling BAIK sayang sekarang kami gak bisa sama-sama lagi, karena kesalahan kecil.. :(
Coba yaa waktu itu aku gak mempermasalahkan masalah itu, pasti sampe detik ini kami bisa sama-sama..
Kalo bisa waktu itu di putar, aku ingin balik ke tanggal 10 Maret 2010, gak akan pernah terjadi kesalahan itu..
Aku kangen sama dia, foto bareng, beli baju bareng, makan bareng, jalan bareng, pokok nya serba bareng deeh..
Bisa gak yaa seperti itu lagi..
Kayak nya susah deh..
Hmmb, dia juga terlalu baik gak pantes lah aku jadi sahabat nya lagi..
Mungkin sekarang aku hanya bisa liat dia dari kejauhan, dan berharap bisa seperti dulu lagi.



Miss you ICHA :D

Senin, 19 Juli 2010

Dia PAHLAWANKU..

22 maret 2010.. :(
Tak terasa udah mau 4 bulan dia ninggalin kita semua untuk selamanya..
Iya, dia kakek ku tersayang..
Dia begitu kuat, sabar menghadapi penyakit yang dideritanya kurang lebih 2-3 tahun belakangan ini.
Tidak ada kata sakit yang keluar dari mulut nya, hanya saja beberapa hari sebelum dia meninggal dia merasakan sakit yang benar-benar sakit..
Ia menderita kanker getah bening, jantung dan paru-paru nya sudah rusak itu akibat dari merokok..
Dokter pun mengatakan tidak ada lagi harapan, kecuali mukjizat dari Allah..
Kita semua tidak percaya dengan omongan dokter itu..
Selama 5 hari itu sedikit sekali perubahan-perubahan itu, dan akhirnya kakek ku memutuskan untuk pulang saja.
Dan hari itupun kami pulang kerumahku..
Awal-awalnya dia tidak bisa lepas dari oksigen, berbagai obat sudah di coba semua dan hasilnya NIHIL..
Kita pun hanya pasrah kepada Allah..
3 hari sebelum kakekku meninggal, banyak sekali kejadian-kejadian aneh yang dialami om ku dan tante ku yang setia menemani kakek ku..
Seperti, pintu kamar mandi terbuka sendiri saat adzan maghrib, tengah malam ada harum melati disekitar kamar dan kakekku terkadang dialam bawah sadar..
Dan siang hari sebelum kakekku meninggal, kami sempat berbincang-bincang mengenai yasinan dimasjid pas selesai shalat maghrib, dan kakekku pun setuju..
Akhirnya, aku bersama ibu ku pergi kepasar untuk membeli makanan untuk yasinan malam nya..
Kakekku mendengarkan juga yasin tersebut sambil meng-Aminkan.. :)
Malam itu pun hujan begitu deras..
Kakekku mau kebawah mau menemui ayahku, tetapi ditahan dan akhirnya kakekku tetap diatas sambil menunggu ayahku keatas..
Malam gak tahu kebetulan atau apa, semua keluarga tuh teledir semua..
Mereka sibuk dengan urusan masing-masing, yang biasanya kami selalu diatas nungguin kakek, tapi malam itu tidak..
Mungkin kami pikir kakek sudah sembuh, karena setelah pembacaan yasin itu kakek terlihat begitu sehat dengan senyum dipipinya..
Aku dan ibu ku pun tertidur dibawah.
Tepat pukul 22.20, kakak sepupuku membangunkan kita semua.
Tp, aku belum ngeh jadi aku pura-pura gak tau dan akhirnya ayahku membangunkan aku untuk melihat kakek 'melepas' :(
Dia pergi begitu tenang dengan senyum dibibirnya, dan ia seperti tidur.
Kami semua sudah ikhlas, tp disaat itu aku belum ikhlas dan akhirnya aku bermimpi bertemu kakeku dia minta diikhlaskan disaat itu juga aku ikhlas..
Setelah shalat subuh kami semua berangkat ke tempat pemakaman didaerah Sukarame, Oku Selatan..
Sebelum kepemakaman kami kerumah kakekku dulu untuk bertemu keluarga disana.
Setelah dishalatkan dan setelah shalat dzuhur kami berangkat ke Sukarame..
YA ALLAH, tempatkan lah disurgamu yang paling indah, karena dia adalah pahlawan kami.. :)
AMIN..

Kakek, tetaplah menjadi PAHLAWAN bagi keluarga kita walau kau sudah tiada..
Tapi, namamu, kebaikan mu, dan kenangan bersama kita semua tetap terukir baik dihati kami semua..
Love U Full..

Minggu, 18 Juli 2010

Perkenalan :)

Perkenalkan nama aku Putri Ayu Wulandari.. :)
Biasa dipanggil Putri, Ciipud..
Terserah kalian deh mau manggil aku apa (asal yang masuk akal aja ya)
hehe*
Sekarang aku duduk dikelas 2 SMA, salah 1 SMA negeri dikota Palembang..
Aku paling benci yang nama nya di bohongin..
Sekali mereka bohong sama aku, susah buat aku baik kepada mereka..
Bisa di sebut aku ini Egois, keras kepala atau apalah.
Tapi, ini lah aku..
Manusia biasa yang ingin menjadi sempurna dan belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, supaya bisa diterima dilingkungan hidup ini..
Aku bahagia buat saat ini, hidup ditengah-tengah orang yang sayang sama aku yang selalu ada buat aku, ya itu keluargaku.
Yang selalu mendukung aku, disaat aku down dan mengingatkan aku disaat aku diatas.. :)
Terima kasih Ya ALLAH engkau memberiku keluarga seperti ini.
Dan sampai detik ini aku belum menemukan sesosok sahabat yang selalu ada buat aku dan siap mendengarkan celoteh-celotehan aku disaat senang maupun sedih..
Mungkin diantara kalian mau menjadi sahabatku yang bisa saling melengkapi, dan selalu ada disaat dibutuhkan maupun tidak dibutuhkan.. :)